twitter


METODE SOSIODRAMA DAN BERMAIN PERAN A.‎ HAKIKAT SOSIODRAMA Pengertian Metode Sosiodrama Kata sosiodrama berasal dari dua kata, yakni ‎sosio dan drama. Sosio berasal dari kata social, sedangkan drama ialah metode ‎mengajar yang dalam pelaksanaannya anak mendapat tugas dari guru untuk ‎mendramatisasikan suatu situasi sosial yang mengandung suatu problem. ‎ Sosiodarama adalah kegiatan drama yang berdasarkan cerita yang lengkap, ‎skenario drama biasanya dibuat terlebih dahulu untuk anak-anak yang berperan supaya ‎mereka dapat mengadakan persiapan. Sedangkan menurut Joeslina Aziz (1995) ‎metode sosiodrama adalah cara mengajar yang member kesempatan pada anak untuk ‎melakukan kegiatan memainkan peran tertentu, seperti yang terdapat dalam kehidupan ‎masyarakat sosial.‎ Langkah-langkah yang ditempuh ‎1.‎ Bila sosiodrama baru ditetapkan dalam pengajaran, maka hendaknya guru ‎menerangkannya terlebih dahulu teknik pelaksanaanya, dan menentukan diantara ‎siswa yang tepat untuk memerankan lakon tertentu, secara sederhana dimainkan di ‎depan kelas ‎2.‎ Menerapkan siatuasi dan masalah yang akan dimainkan dan perlu juga diceritakan ‎jalannya peristiwa dan latar belakang cerita yang akan dipentaskan tersebut ‎3.‎ Pengaturan adegan dan kesiapan mental dapat dilakukan sedemikian rupa ‎4.‎ Setelah sosiodrama itu dalam peuncak klimas, maka guru dapat menghentikan ‎jalannya drama. Hal ini dimaksudkan agar kemungkinan-kemungkinan pemecahan ‎masalah dapat diselesaikan secara umum, sehingga penonton ada kesempatan untuk ‎berpendapat dan menilai sosiodrama yang dimainkan. Sosiodrama dapat pula ‎dihentikan bila menemui jalan buntu ‎5.‎ Guru dan siswa dapat memberikan komentar, kesimpulan atau berupa catatan ‎jalannya sosiodrama untuk perbaikan-perbaikan selanjutnya.‎ B.‎ HAKIKAT BERMAIN PERAN Pengertian Bermain Peran adalah memegang fungsi. Menurut Gilstrap dan ‎Martin, bermain peran adalah memerankan karakter /tingkah laku dalam pengulangan ‎kejadian yang diulang kembali, kejadian masa depan, kejadian yang masa kini yang ‎penting atau situasi yang imajinati.‎ Bermain peran dalam pembelajaran merupakan usaha untuk memecahkan ‎masalah melalui peragaan, serta langkah-langkah identifikasi masalah, analisis, ‎pemeranan, dan diskusi. ‎ Pada pembelajaran bermain peran, pemeranan tidak dilakukan secara tuntas ‎sampai masalah dapat dipecahkan. Hal ini dimaksudkan untuk mengundang rasa ‎kepenasaran peserta didik yang menjadi pengamat agar turut aktif mendiskusikan dan ‎mencari jalan ke luar. Dengan demikian, diskusi setelah bermain peran akan ‎berlangsung hidup dan menggairahkan peserta didik.‎ Hakekat pembelajaran bermain peran terletak pada keterlibatan emosional ‎pemeran dan pengamat dalam situasi masalah yang secara nyata dihadapi.‎ Istilah sosiodrama dan bermain peranan (role playing) dalam metode merupakan ‎dua istilah yang kembar, bahkan di dalampelaksanaannya dapat dilakukan dalam ‎waktu bersamaan dan silih berganti. Sosiodrama dimaksudkan adalah suatu cara ‎mengajar dengan jalan mendramatisasikan bentuk tingkah laku dalam hubungan sosial. ‎Pada metode bermain peranan, titik tekanannya terletak pada keterlibatan emosional ‎dan pengamatan indera ke dalam suatu situasi masalah yang secara nyata dihadapi C.‎ PERAN GURU Dalam metode sosiodrama dan permain peranan Guru berperan sebagai ‎sutradara, dimana ia betugas sebagai pemimpin, memandu jalannya cerita dan ‎menentukan para pemain peranan yang cocok dengan karakternya. Dan terkadang ‎guru juga harus menyiapkan naskahnya terlebih dahulu. Selain itu Guru juga memiliki ‎tugas untuk menyimpulkan hasil akhir dari kegiatan dramatisasi tersebut.‎ Meskipun guru sebagai pemimpin cerita namun guru hendaknya harus memberi ‎kebebasan kepada peserta didik untuk mengekpresikan tingkah lakunya.‎ D.‎ PERAN MURID Dalam metode ini murid berperan sebagai pemain dan penonton. Dengan ‎sosiodrama dan permain peranan setiap peserta didik diberi tugas memerankan hal – ‎hal yang sesuai dengan kemampuannya. Sehingga dalam pelaksanaan tersebut setiap ‎anak merasa tanggung jawab terhadap pelaksanaannya.‎ Setelah itu sebagian peserta yang statusnya sebagai penonton memiliki hak untuk ‎memberikan kritik dan saran dalam pelaksanaan kegitan tersebut. Sehingga setelah ‎permainan peran atau sosiodrama selesai maka akan tercipta suatu diskusi yang hidup.‎ E.‎ MATERI YANG COCOK Metode sosiodrama dan bermain peranan sangat cocok digunakan untuk meteri ‎yang memiliki tujuan :‎ ‎1.‎ Memahami perasaan orang lain ‎2.‎ Membagi pertanggungjawaban dan memikulnya.‎ ‎3.‎ Menghargai pendapat orang lain.‎ ‎4.‎ Mengambil keputusan dalam kelompok ‎5.‎ Membantu penyesuaian diri dengan kelompok ‎6.‎ Memperbaiki hubungan sosial.‎ ‎7.‎ Mengenali nilai – nilai dan sikap-sikap ‎8.‎ Menaggulangi atau memperbaiki sikap – sikap yang salah.‎ Misalnya Dalam pendidikan agama metode sosiodrama dan bermain peranan ini ‎efektif dalam menyajikan pelajaran PKn, akhlak, sejarah Islam dan topik-topik ‎lainnya. Dalam pelajaran sejarah, misalnya guru ingin menggambarkan kisah sahabat ‎khalifah Abu Bakar, ketika beliau masuk Islam. Kisah tersebut tentu amat menarik jika ‎disajikan melalui metode sosiodrma dan bermain peranan. Sebab siswa disamping ‎mengetahui proses jalannya khalifah Abu Bakar masuk Islam, juga dapat menghayati ‎ajaran dan hikmah yang terkandung dalam kisah tersebut.‎ Demikian pula halnya pada pelajaran akhlak. Misalnya bagaimana sosok akhlaqul ‎karimah (seorang yang berakhlak mulia) dan anak yang saleh ketika berhadapan ‎dengan orang tuanya maupun anak durhaka kepada orang tuanya, misalnya ‎sebagaimana cerita “Si Malin Kundang” yang tersohor itu.‎ F.‎ KELEBIHAN DAN KELEMAHAN  Kebaikan Metode Sosiodrama Bermain Peranan ‎1.‎ Dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa. Disamping ‎merupakan pengaman yang menyenangkan yang saling untuk dilupakan ‎2.‎ Sangat menarik bagi siswa, sehingga memungkinkan kelas menjadi dinamis dan ‎penuh antusias ‎3.‎ Membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri siswa serta ‎menumbuhkan rasa kebersamaan dan kesetiakawanan sosial yang tinggi ‎4.‎ Dapat menghayati peristiwa yang berlangsung dengan mudah, dand apat ‎memetik butir-butir hikmah yang terkandung di dalamnya dengan penghayatan ‎siswa sendiri ‎5.‎ Dimungkinkan dapat meningkatkan kemampuan profesional siswa, dan dapat ‎menumbuhkan / membuka kesempatan bagi lapangan kerja  Kelemahan-kelemahannya Sebagaimana dengan metode-metode yang lain, metode sosiodrama dan bermain ‎peranan memiliki sisi-sisi kelemahan. Namun yang penting disini, kelemahan dalam ‎suatu metode tertentu dapat ditutupi dengan memakai metode yang lain.‎ Mungkin sekali kita perlu memakai metode diskusi, ausid visual, tanya jawab ‎dan metode-metode lain yang dapat dianggap melengkapi metode sosiodrama/bermain ‎peranan Kelemahan metode sosiodrama dan bermain peranan ini terletak pada :‎ ‎1.‎ Sosiodrama dan bermain peranan memelrukan waktu yang relatif ‎panjang/banyak ‎2.‎ Memerlukan kreativitas dan daya kreasi yang tinggi dari pihak guru maupun ‎murid. Dan ini tidak semua guru memilikinya ‎3.‎ Kebanyakan siswa yang ditunjuk sebagai pemeran merasa malu untuk ‎memerlukan suatu adegan tertentu ‎4.‎ Apabila pelaksanaan sosiodrama dan bermain pemeran mengalami kegagalan, ‎bukan saja dapat memberi kesan kurang baik, tetapi sekaligus berarti tujuan ‎pengajaran tidak tercapai ‎5.‎ Tidak semua materi pelajaran dapat disajikan melalui metode ini ‎6.‎ Pada pelajaran agama masalah keimanan, sulit disajikan melalui metode ‎sosiodrama dan bermain peranan ini.‎ Saran-saran yang perlu pendapat perhatian dalam pelaksanaan metode ini ‎1.‎ Merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan melalui metode ini. Dan tujuan ‎tersebut diupayakan tidak terlalu sulit/berbelit-belit, akan tetapi jelas dan mudah ‎dilaksanakan ‎2.‎ Melatar belakang cerita sosiodrama dan bermain peranan tersbeut. Misalnya ‎bagaimana guru dapat menjelaskan latar belakang kehidupan sahabat Aku Bakar ‎sebelum menceritakan kisah sahabat Abu Bakar masuk Islam. Hal ini agar materi ‎pelajaran dapat dipahami secara gamblang dan mendalam oleh siswa/anak didik ‎3.‎ Guru menjelaskan bagaimana proses pelaksanaan sosiodrama dan bermain ‎peranan melalui peranan yang harus siswa lakukan/mainkan ‎4.‎ Menetapkan siapa-siapa diantara siswa yang pantas memainkan/melakonkan ‎jalannya suatu cerita. Dalam hal ini termasuk peranan penonton ‎5.‎ Guru dapat menghentikan jalannya permainan apabila telah sampai titik klimaks. ‎Hal ini dimaksudkan agar kemungkinan-kemungkinan pemecahan masalah dapat ‎didiskusikan secara seksama ‎6.‎ Sebaiknya diadakan latihan-latihan secara matang, kemudian diadakan uji coba ‎terlebih dahulu, sebelum sosiodrama dipentaskan dalam bentuk yang ‎sebenarnya.‎ G.‎ CONTOH PENERAPAN.‎ RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Mata Pelajaran ‎ ‎: ‎ Akidah Akhlak Kelas / Semester ‎ ‎: ‎ V / II Standar Kompetensi ‎: ‎ Meneladani dan menerapkan ciri-ciri orang-orang yang ‎beriman dan terbiasa mensyukuri nikmat Allah, menerapkan ‎adab secara Islami ketika bekerja, berbakti kepada kedua ‎orang tua, dan meneladani akhlak terpuji dari orang-orang/ ‎tokoh serta menghindari akhlak tercela dari orang-orang/ ‎tokoh dalam kehidupan sehari-hari.‎ Kompetensi Dasar ‎:‎ Menghindari sifat-sifat orang/tokoh yang berakhlak tercela Indikator ‎:‎ ‎-‎ Menyebutkan sifat putus asa/tama' dari kisah/cerita/tokoh.‎ ‎-‎ Menemukan akibat sifat putus asa/tama' dari ‎kisah/cerita/tokoh.‎ ‎-‎ Memberikan contoh-contoh akibat sifat putus asa/tama' ‎dari kisah/cerita/tokoh.‎ ‎-‎ Memilih menghindari akibat sifat putus asa/tama' dari ‎kisah/cerita/tokoh.‎ ‎-‎ Membiasakan untuk menghindari sifat putus asa/tama' ‎dari kisah/cerita/tokoh.‎ II.‎ MATERI POKOK • Tokoh Tercela III.‎ LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN No.‎ Kegiatan Waktu Metode ‎1‎ Pendahuluan Untuk membangkitkan motivasi belajar siswa, ‎guru menanyakan kepada siswa tentang ‎pengertian putus asa.‎ ‎5 menit‎ Tanya Jawab ‎ ‎2‎ Kegiatan Inti Guru membaca kisah tentang Barqisha yang mati ‎dalam kekafiran secara singkat.‎ Sebelumnya guru menyiapkan naskah awal dan ‎membagikannya kepada semua peserta didik dan ‎memilih para pemeran yang cocok.‎ Memberikan kesempatan kepada beberapa orang ‎siswa untuk mempraktekkan alur kisah tersebut ‎‎(Bermain Peranan).‎ Secara berkelompok siswa diminta untuk ‎menganalisis kerugian memiliki sifat putus asa dan ‎cara menghindarinya.‎ ‎60‎ Ceramah Bermain ‎Peran Diskusi ‎3‎ Penutup Memberi penekanan kepada murid untuk ‎menghindari sifat putus asa sebagaimana dimiliki ‎oleh Barqisha.‎ ‎5‎ Tanya Jawab RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Nama Sekolah ‎: SD‎ Mata Pelajaran ‎: Pendidikan Kewarganegaraan‎ Kelas ‎: I (Satu) ‎ Semester ‎:‎ I (Satu)‎ Kompetensi Dasar Memberikan contoh hidup rukun melalui kegiatan di rumah dan di sekolah.‎ Indikator ‎1.‎ Mengidentifikasi cara-cara hidup rukun di rumah dan di sekolah.‎ ‎2.‎ Mengidentifikasi cara-cara hidup tidak rukun di rumah dan di sekolah.‎ B. Materi Ajar Contoh hidup rukun di rumah dan di sekolah.‎ C. Pendekatan dan Metode Pembelajaran ‎1.‎ Ceramah ‎2.‎ Sosiodrama ‎3.‎ Diskusi kelas.‎ D. Langkah-langkah Kegiatan Pertemuan Pertama ‎1.‎ Kegiatan Awal a)‎ Mengajak semua siswa berdoa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing, ‎untuk mengawali pelajaran.‎ b)‎ Mengajak siswa bertanya jawab tentang kegiatan apa saja yang dilakukan setelah pulang ‎dari sekolah.‎ c)‎ guru menjelaskan siapa saja yang ada dirumah, dan apa kedudukan mereka.‎ ‎2. Kegiatan Inti‎ • Guru memberikan sebuah gambaran cerita yang akan diperankan tentang hidup saling ‎kerja sama dalam keluarga.‎ • Guru memilih atau menawarkan kepada peserta didik siapa yang bersedia memerankan ‎cerita tersebut didepan kelas.‎ • Gambaran cerita................‎ Ada seorang kakak (sedang belajar ) dan kedua adiknya (bermain bersama).............‎ Klimaks....(kedua adik tersebut berebut mainan dan merusakkan mainan tersebut).......‎ ‎................ ‎ a)‎ Berdiskusi tentang apa akibat nya jika tidak mau bekerja sama di rumah.‎ • Semua siswa diajak bertanya jawab sambil membuat kesimpulan.‎ ‎3. Kegiatan Penutup‎ a)‎ Bersama-sama dengan seluruh siswa membuat kesimpulan dari materi yang telah ‎dibelajarkan.‎ b)‎ Bertanya jawab tentang materi yang telah dipelajari selama pertemuan itu, untuk ‎mengetahui ketercapai indikator dan kompetensi dasar.‎ c)‎ Mengakhiri pelajaran dengan mengajak semua siswa berdoa sesuai dengan agama dan ‎kepercayaan masing-masing.‎

2 komentar:

  1. mohon maaf saya mau tanya, jadi dimana point letak perbedaan sosiodrama dan role playing?
    makasih sebelumnya

  1. apa-apa saja judul buku yang menyangkut sosiodrama tersebut? apakah ada devinisi para ahli mengenai kekurangan dan keunggulan metode tersebut? klo ada tlong di sare ya. terima kasih

Poskan Komentar